Wednesday, November 9, 2016

Tips Mujarab dalam Memahami Ilmu


sahih-muslim-books

Seorang penuntut ilmu hendaklah memiliki motivasi yang kuat dalam sanubarinya dalam menuntut ilmu.

Bismillaahirrahmanirrahiim
Subhanallaah wal hamdulillaah, kita bersyukur kepada Allah Jalla wa �Ala atas limpahan karunia, nikmat serta hidayah-Nya kepada kita. Dialah yang memberi karunia kepada kita hati yang selalu rindu dan haus akan ilmu-ilmu agama. Dialah yang menggerakkan tubuh dan hati kita untuk ringan dalam menghadiri majelis ilmu, dan Dialah yang menggerakkan hati kita untuk membaca sepotong nasihat yang sekarang ada di depan kita ini. Alhamdulillaah.

Allaahumma shalli wa sallim �ala nabiyyinaa muhammad, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada hamba-Nya, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hisyam bin Abdu Manaf. Dan yang selalu kita harapkan syafaatnya di hari kiamat kelak. Beliau adalah utusan-Nya yang diamanahi untuk mengajak seluruh umat manusia yang berada di zaman apapun , agar mentauhidkan Allah, dengan penuh pengorbanan, jihad fii sabilillaah. Sehingga ilmu agama yang sebenar-benarnya telah sampai di depan mata kita. Alhamdulillaahilladzi bi ni�matihi tatimmush shalihaat.

Motivasi Memahami Ilmu
Seorang penuntut ilmu hendaklah memiliki motivasi yang kuat dalam sanubarinya dalam menuntut ilmu. Betapa senang hati kita ketika Allah ternyata memuji orang-orang yang berilmu dalam QS. Az Zumar : 9, Allah berfirman,

????? ????? ????????? ?????????? ??????????? ???????????? ??? ???????????

�Katakanlah: Apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?�.

Dan bukankah kita tidak mau jika kita dicela oleh orang lain karena kebodohan kita? Terlebih jika yang mencela adalah Allah Ta�ala. Melaui firman-Nya dalam QS. Ar-Ra�d: 19, Allah Ta�ala memperingatkan kita,

???????? ???????? ???????? ???????? ???????? ???? ??????? ???????? ?????? ???? ????????

�Apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan dari Rabbmu adalah kebenaran sama sebagaimana orang yang buta?�.

Di dalam ayat ini, Allah memposisikan orang yang bodoh seperti halnya orang yang buta dan tidak bisa melihat, meskipun secara zahir matanya berfungsi.

Karena dengan ilmu -yang lurus- kita akan dapat mengetahui kebenaran. Allah Ta�ala berfirman,

??????? ????????? ??????? ????????? ??????? ???????? ???????? ???? ??????? ???? ????????

�Dan orang-orang yang diberikan ilmu itu melihat bahwasanya apa yang diturunkan dari Rabbmu kepadamu itulah kebenaran.� (QS. Saba�: 6).

Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang berilmu itulah yang bisa melihat kebenaran yaitu pada apa yang diturunkan Allah, dan ini sekali lagi menjadi sebuah sanjungan dan pujian bagi orang-orang yang dikaruniai ilmu oleh Allah.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, bahwa kesempurnaan pribadi seseorang akan bisa terwujud dengan menyempurnakan dua buah kekuatan; yaitu kekuatan ilmu dan amal.

Menyempurnakan kekuatan ilmu adalah dengan keimanan, sedangkan menyempurnakan kekuatan amal adalah dengan melakukan amal-amal shalih.

Ini artinya, dengan ilmu, iman dan amal akan terwujud sosok yang ideal secara individu. Kemudian kesempurnaan individu ini akan lengkap jika dibarengi kesempurnaan secara sosial, yaitu dengan mengajarkan kebaikan, bersabar di atasnya, dan menasihati dalam hal kesabaran untuk berilmu dan beramal.

Namun, memang tidak dipungkiri bahwa iman itu naik dan turun, menuntut ilmu itu terkadang semangat, terkadang futur, bahkan ketika sudah berada dalam majelis ilmu. Berangkat ke majelis ilmu dengan semangat menggebu-gebu, tapi di tengah mendengarkan faedah, konsentrasi menurun, atau bahkan hilang. Entah karena asyik berbagi �faedah� dengan kawan sebelah, atau bahkan asyik dengan upaya diri menahan kantuk. Maka perlu kiranya kita mengoreksi sikap kita ketika di majelis ilmu, agar semangat menggebu di awal datang ke majelis ilmu tetap terjaga sampai majelis di tutup bahkan sampai mengamalkannya. Karena semangat itu perlu di jaga, perlu dilestarikan, dengan mengusahakan lingkungan yang kondusif, sehingga semangat dan kondisi itu menjadi saling mendukung.

Adab Menuntut Ilmu dan Berada di Majelis Ilmu
Adab menuntut ilmu :

a. Mengikhlaskan niat
Menuntut ilmu adalah ibadah yang mulia. Agar ibadah tersebut diterima oleh Allah Ta�ala dan berbuah pahala, maka hendaknya seorang penuntut ilmu menjaga betul keikhlasan niatnya. Al-Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya dengan apa seseorang meniatkan dirinya dalam menuntut ilmu? Maka beliau pun menjawab, �Hendaknya dia niatkan untuk mengangkat kebodohan dari dirinya dan dari diri orang lain.�

b. Tampil dengan penampilan yang baik
Hendaknya seorang penuntut ilmu tampil dengan penampilan yang bersih dan rapi. Di dalam hadits malaikat Jibril �alaihis salam ketika beliau �alaihis salam datang ke majelis Rasulullah shallallahu �alaihi wa sallam digambarkan bahwa beliau datang dengan penampilan yang baik. Umar radhiyallahu �anhu mengisahkan, �Muncul di hadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh..� (HR. Muslim dari Umar radhiyallahu �anhu).

c. Berusaha untuk berada di tempat terdepan
Tempat terdepan akan memiliki luas pandang yang lebih sedikit daripada di belakang, sehingga akan lebih mudah fokus. Tempat terdepan juga meminimalisir terjadinya salah informasi. Tempat terdepan juga akan memotivasi kita untuk lebih bersungguh-sungguh dan tidak mengantuk, karena berada langsung di depan pengajar, dan karena jika bersikap tidak baik, padahal duduk di tempat terdepan, maka akan mendhalimi orang yang duduk di belakang, sebab mengganggu konsentrasinya.

d. Tenang dan fokus dalam mendengerkan faedah
Karena hanya dengan sikap tenang dan fokuslah, ilmu/faedah itu dapat diterima dan dipahami secara utuh, sehingga tidak menyesatkan diri sendiri maupun orang lain dalam beramal.

Adab berada di majelis ilmu :

a. Bersegera datang ke majelis ilmu dan tidak terlambat, bahkan harus mendahuluinya dari selainnya
Seseorang bila terbiasa bersegera dalam menghadiri majelis ilmu, maka akan mendapatkan faidah yang sangat banyak. Sehingga Asy-Sya�bi ketika ditanya,�Dari mana engkau mendapatkan ilmu ini semua?�, ia menjawab,�Tidak bergantung kepada orang lain. Bepergian ke negeri-negeri dan sabar seperti sabarnya keledai, serta bersegera seperti bersegeranya elang�.

b. Mencatat faedah-faedah yang didapatkan dari kitab
Mencatat faidah pelajaran dalam kitab tersebut atau dalam buku tulis khusus. Faedah-faedah ini akan bermanfaat jika dibaca ulang dan dicatat dalam mempersiapkan materi mengajar, ceramah dan menjawab permasalahan. Oleh karena itu sebagian ahli ilmu menasihati kita. Jika membeli sebuah buku, agar tidak memasukkannya ke perpustakaan. Kecuali setelah melihat kitab secara umum. Caranya dengan mengenal penulis. Pokok bahasan yang terkandung dalam kitab dengan melihat daftar isi dan membuka-buka sesuai dengan kecukupan waktu sebagian pokok bahasan kitab.

c. Tenang dan tidak sibuk sendiri dalam majelis ilmu
Ini termasuk adab yang penting dalam majelis ilmu. Imam Adz Dzahabi menyampaikan kisah Ahmad bin Sinan, ketika beliau berkata,�Tidak ada seorangpun yang bercakap-cakap di majelis Abdurrahman bin Mahdi. Pena tak bersuara. Tidak ada yang bangkit. Seakan-akan di kepala mereka ada burung atau seakan-akan mereka berada dalam shalat�. Dan dalam riwayat yang lain,�Jika beliau melihat seseorang dari mereka tersenyum atau berbicara, maka dia mengenakan sandalnya dan keluar�.

d. Tidak boleh berputus asa
Terkadang sebagian kita telah hadir di suatu majelis ilmu dalam waktu yang lama. Akan tetapi tidak dapat memahaminya kecuali sedikit sekali. Lalu timbul dalam diri kita perasaan putus asa dan tidak mau lagi duduk di sana. Tentunya hal ini tidak boleh terjadi.

Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqiti berkisah, �Ada satu masalah yang belum saya pahami. Lalu saya kembali ke rumah dan saya meneliti dan terus meneliti. Sedangkan pembantuku meletakkan lampu atau lilin di atas kepala saya. Saya terus meneliti dan minum teh hijau sampai lewat 3/4 hari, sampai terbit fajar hari itu�. Kemudian beliau berkata,�Lalu terpecahlah problem tersebut�.

e. Jangan memotong pembicaraan guru atau penceramah
Termasuk adab yang harus diperhatikan dalam majelis ilmu, yaitu tidak memotong pembicaraan guru atau penceramah. Karena hal itu termasuk adab yang jelek. Rasulullah shallallahu �alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita dengan sabdanya (yang artinya) :

??? ??? ?? ?? ??? ?????? ? ???? ?????? ? ???? ??????? ???

�Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama.� [HR. Ahmad, shahih].

Wallaahu �alam.


Sumber : Muslimah.or.id

Referensi :
Al-Qur�an Al-Karim
Al-Lu�lu� wal Marjan karya Syaikh Muhammad Fu�ad Abdul Baqi
Rihlah Fi Thalabil Hadits, hal.196 oleh Al-Khotib Al-Baghdadi
Tadzkiratul Huffadz 1/331 karya Imam Adz-Dzahabi

Penulis: Dian Pratiwi
Murajaah : Ustadz Sa�id Abu Ukasyah

Panglima TNI Titip Keutuhan NKRI kepada Ulama dan Santri


Panglima TNI Titip Keutuhan NKRI kepada Ulama dan Santri

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengajak santri dan ulama untuk membantu TNI dalam mempertahakan keutuhan NKRI.

Ajakan ini disampaikan Gatot saat menjadi pembicara dalam Muktamar Wahdah Islamiyah ke-3 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin (18/7/2016).

�Saya sadar ancaman bangsa begitu luar biasa. Kemudian saya tidak mampu melakukan itu sendiri. Dan saya sudah menemukan kekuatan bangsa ini, yaitu manunggalang TNI, rakyat, ulama, dan santri,� kata dia yang kemudian disambut pekikan takbir muktamirin.

Jenderal kelahiran Tegal 60 tahun silam ini melanjutkan, "TNI menitipkan keutuhan NKRI kepada para ulama.�

Kenapa ulama? Karena menurutnya, ulama dan santri memiliki pengaruh besar terhadap negara. Terlebih kata dia, kemerdekaan Indonesia tercatat adalah hasil perjuangan santri dan ulama saat masa kemerdekaan dulu.

�Kemerdekaan tidak lain karena perjuangan ulama da para santri. Itulah sejarah yang tercatat,� ungkap dia.



Sumber :(Nizar/Syaf/voa-islam.com)


10 Tips Desain Interior Ruang Keluarga Minimalis


10 Tips Desain Interior Ruang Keluarga Minimal

Desain interior ideal adalah yang dapat mewakili jiwa dari pemiliknya. Desain ini juga menciptakan gaya hidup yang lebih baik bagi pemilik rumah. Rumah menentukan karakter pemiliknya yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Membangun desain interior ruang keluarga minimalis sangat penting, apalagi bagi keluarga muda yang sedang ingin membangun rumah mungil. Luas lahan yang sempit menyebabkan bangunan yang dibuat pun harus ditata agar dapat memaksimalkan ruangan yang sempit menjadi terlihat luas.

Abi dan Ummi dapat membuat rumah dengan desain sendiri mulai dari ruangan utama hingga dapur, termasuk ruang keluarga yang sangat nyaman ditempati jika ingin bersantai bersama keluarga. Mari simak tips membangun desain interior ruang keluarga minimalis. Semoga bermanfaat!

1.Membuat ruang keluarga yang memakai pintu geser sehingga tampak tersembunyi di balik pintu lemari.

2.Penggunaan warna putih agar ruangan terlihat segar dan cerah.

3.Ruang keluarga yang menghadap ke luar dengan jendela kaca yang lebar sebagai pembatas akan membuat ruangan tampak luas.

4.Penggunaan cermin yang ditempel di dinding agar ruangan terlihat lebih luas.

5.Nuansa kayu dapat menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat.

6.Membangun rak terbuka di atas lemari dengan sudut-sudut canggung di ruang keluarga.

7.Membuat ruang serbaguna di lemari yang sempit dan menyatu dengan dinding ruang keluarga.

8.Membuat meja ruang keluarga yang lebih kecil, misalnya dibuat setengah segitiga, sehingga ruangan tidak terlalu sempit. Selain itu, meja dapat juga berbentuk bulat sehingga dapat diletakkan di pojok ruangan.

9.Letakkan bunga hias di sudut ruang keluarga sehingga menampilkan kesan nyaman. Aksen bunga hias ini dapat menggunakan bunga dari plastik yang dirangkai dalam sebuah pot kecil sehingga bunga tampak tumbuh menjulang ke atas. Karena potnya kecil, ruangan tidak tampak sempit dengan kehadiran bunga hias ini.

10.Gunakan sofa yang ukurannya lebih kecil dan tambahkan dengan bantal berwarna cerah, misalnya paduan ungu dan putih.

Desain interior ruang keluarga minimalis dapat Abi dan Ummi kreasikan di rumah. Dengan menggunakan konsep minimalis, seluruh ruangan tampak lebih longgar. Abi dan Ummi pun tetap dapat mewujudkan hunian idaman yang dapat menghangatkan suasana keluarga.


Sumber : abiummi.com

Mengapa Ibu Zaman Dulu Kuat Mengurus Banyak Anak dan juga Rumah Sedangkan Sekarang Tidak? Ini Jawabannya...


Mengapa Ibu Zaman Dulu Kuat Mengurus Banyak Anak dan juga Rumah Sedangkan Sekarang Tidak?

Sahabat Ummi, kita tahu orang-orang zaman dahulu biasanya punya banyak anak, jarak kelahirannya berdekatan, dan sang ibu bisa mengurus semua anaknya juga melakukan pekerjaan rumah tangga dari mulai menyapu, cuci baju, masak, sendirian tanpa bantuan asisten rumah tangga.

Sedangkan ibu zaman sekarang, bahkan sekalipun yang full time mother, sering kerepotan dan keteteran mengerjakan tugas rumah tangga meskipun baru memiliki satu orang anak saja.

Mengapa bisa demikian? Apa yang membedakannya? Beberapa alasan berikut ini mungkin bisa menjelaskan perbedaannya:

1. Perbedaan pola Asuh

Zaman sekarang banyak orangtua yang tidak mengajarkan anaknya melakukan pekerjaan rumah, segala sesuatu dikerjakan oleh pembantu, sehingga ketika dewasa, ia tidak terbiasa mengurus pekerjaan rumah tangga.

Beda dengan orangtua zaman dahulu yang sudah mengajarkan segala pekerjaan rumah pada anak perempuannya. Sehingga ketika dewasa dan menikah tidak lagi kagok mengerjakan tugas rumah tangga.

2. Perbedaan teknologi

Zaman dahulu semua harus dikerjakan manual, sedangkan saat ini hampir segala tugas rumah tangga bisa digantikan oleh mesin. Ada mesin cuci, mesin penyedot debu, blender, dll.

Ditambah lagi kehadiran televisi dan ponsel yang semakin mengubah gaya hidup sehari-hari, membuat wanita zaman sekarang dilenakan oleh kemajuan teknologi sehingga lebih banyak peluanh keteteran mengurus pekerjaan rumah tangga dan anak.

3. Perbedaan pilihan

Zaman sekarang pilihan makin beragam. Seorang wanita bisa memilih sebagai full time mother, atau menjadi ibu rumah tangga sambil berkerja, atau berwirausaha di rumah dan menggunakan jasa asisten rumah tangga, sehingga makin banyak alasan untuk tidak memiliki skill kerumahtanggaan yang mumpuni.

Sedangkan zaman dahulu kebanyakan wanita tidak punya banyak pilihan selain di rumah mengurus urusan rumah tangga dan anak-anak, sehingga kemampuan mengurus pekerjaan rumahtangga merupakan keahlian alamiah seorang wanita.

Tentu saja kita perlu merasa salut dan berterimakasih pada para ibu yang mampu mengurus anak dan rumah tangga sekaligus, semoga Allah menganugerahkan surga atas keikhlasannya melayani keluarga.


Sumber : ummi-online.com

Inilah 6 Alasan Masuk Akal Mengapa Kita harus Banyak Anak


Hasil gambar untuk anak tk

Sahabat Ummi, kita tidak akan pernah melupakan sebuah kata pepatah yang hampir basi didengar. Pepatah itu mengatakan bahwa, "banyak anak banyak rezeki." Namun faktanya? Semua umat berbondong-bondong pasang KB agar kelahiran anak dibatasi (mungkin beda kasus ya kalau intruksi karena alasan medis semisal pasca operasi caesar atau alasan medis lainnya) tapi faktanya yang melahirkan normal pun membatasi kelahiran dengan KB.

Selain rezeki, tentu saja ada pertimbangan-pertimbangan lain yang kita pendam untuk memperlambat memiliki banyak anak. Asas kerepotan lah, asas ketidakbisaan membagi waktu lah, asas pekerjaan lah dan lain sebagainya. Namun jika kita gali ke dasar jiwa kita. Ini pasti ada alasan yang sangat masuk akal, kenapa kita mesti banyak anak? Pasti ada alasan yang jelas kenapa sih kita harus memiliki banyak keturunan?

Dan inilah beberapa alasan diantaranya :

1. Banyak anak (memang) banyak rezeki

Ini memang seperti pepatah yang cukup basi ya. Tapi percayalah ini masih relevan kok. Karena semakin banyak keturunan, maka kelak saat kita tua akan semakin banyak yang menyayangi kita, yang mengurus kita, yang akan menenangkan kita saat masa masa kritis di usia lanjut kita.

Bukan hanya itu, rezeki anak selalu saja datang tak terduga. Dan memang begitu adanya. Semisal sebelum memiliki anak kondisi keuangan biasa-biasa saja, cenderung terhimpit bahkan carut-marut. Namun, setelah memiliki anak? Ada adaaa saja ya jalan rezeki yang di buka oleh Allah. Baik lewat karir yang naik, atau usaha yang maju atau tiba tiba ada proyek yang tak terduga dan menghasilkan sejumlah uang? Dan itulah yang kita maksud dengan banyak anak banyak rezeki.

Lantas, bagaimana dengan kondisi finansial yang masih menghimpit dan masih minim  saat banyak memiliki anak?

Percayalah... lebih banyak kemudahan yang di turunkan oleh Allah di bandingkan dengan kesulitan. Lebih banyak nikmat yang di turunkan oleh Allah kepada kita di bandingkan dengan derita. Dan mungkin modal itu yang harus kita syukuri. Dan segala nikmat, segala kemudahan, segala kebahagiaan yang kita miliki adalah rezeki, rezeki dan rezeki yang diberikan Allah untuk kita.

2. Agar mengerti arti tanggung jawab

Sahabat Ummi, memiliki anak artinya memiliki sejumlah tanggung jawab baru. Berbeda dengan kondisi kita yang masih couple, berdua saja, tanpa ada beban tambahan. Namun setelah memiliki anak? Artinya kita akan di hadapkan pada tanggung jawab baru. Beban yang baru? tanggung jawab apa? banyak hal, yaitu: tanggung jawab mendidik anak, tanggung jawab mengurus dari bayi sampai dewasa, tanggung jawab menjaga kehormatan, tanggung jawab memberikan finansial dan segala macam. Dan disitulah kita akan mudah mengerti arti tanggung jawab melalui pendidikan alam, melalui pendidikan hidup selama proses mengemban amanah anak.

3. Agar diri kita semakin tertarbiyah melalui pendidikan alami mengasuh anak

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Itu juga pepatah yang sering kali kita dengar. Dan memang benar adanya, ilmu pengetahuan akan menaikkan derajat kita. Pengalaman yang membuat karir kita semakin meningkat. Pengalaman juga yang akan membuat kita semakin yakin akan kemampuan diri kita. Termasuk kemampuan kita dalam mendidik, menjaga, mendistribusikan ilmu-ilmu kita kepada anak kita.

Pernah ya kita dengar nasihat orang tua kita. �Nanti juga akan bisa dengan sendirinya. Nanti juga akan tahu dengan sendirinya.�

Dan betul, Semuanya akan menjadi tahu melalui pengalaman-pengalaman hidup kita. Dan hal itu akan otomatis secara alamiah akan mentarbiyah diri kita. Mentarbiyah kemampuan kita dalam mengurus anak, mentarbiyah kita dalam mendewasakan hidup kita. Termasuk mentarbiah jiwa-jiwa kita dalam menahan beban, emosi dan segala tantang hidup kita.

4. Agar kita tidak lupa akan jasa-jasa orang tua dahulu

Semakin kita sering mengurus anak kita. Semakin sering kita berinteraksi dengan anak kita. Semakin sering kita mendapat beban dalam mendidik anak kita. Maka diam-diam dalam sanubari kita ada sesuatu yang menelusup. Sebuah perasan angan-angan yang jauh di dasar hati kita mengatakan. �Begini ya rasanya mengurus anak. Begini ya rasanya diri ini marah, sebal, kecewa dan pusing dalam ngurus anak kita.�

Dan hal itu sungguh telah menyadarkan kita cara berbakti kepada orang tua kita sebaik-baik kita berbakti. Dengan cara itu pula kita menjadi sadar sesadar sadarnya kalau perjuangan orang tua kita dalam membesar anaknya sungguh terjal luar biasa. Dan hal itu kemudian akan memberikan efek positif dalam jiwa kita untuk senantiasa ingin berjuang. Berjuang dan terus berusaha bagaimana caranya sekuat tenaga kita untuk tetap membahagikan, tidak pernah mengecewakan kedua orang tuanya.

5. Agar kita semakin giat untuk berusaha

Tantangan, masalah rumah tangga, masalah finansial, tingkat kebutuhan yang menjulang tinggi mengasah kita menjadi orang tua yang tangguh. Mengasah kepribadian orang tua menjadi kedua orang tua yang tak kenal lelah, pantang menyerah dan anti putus asa. Semua hal. Iya, semua hal baik jiwa, harta dan nyawapun akan menjadi taruhan kita dalam memperjuangkan kehidupan anak kita.

Dan dengan banyak anak? maka efek positifnya adalah kita menjadi semakin tertantang untuk mencari rezeki yang lebih banyak. Kita menjadi tertantang untuk terus giat berusaha, dan kita menjadi terdidik untuk anti dalam kemalasan. Kita juga menjadi malu jika kondisi hidup tidak berubah. Dan tentu saja, kehadiran anak-anak kita juga menjadi feedback positif bahwa ada sesuatu yang harus diperjuangkan. Ada sesuatu yang harus di peraturhkan yaitu harga diri di atas anak-anaknya. Dan itu memerlukan kerja keras yang luar biasa harus diperjuangkan.

6. Agar memiliki generasi penerus tanpa putus

Generasi, pengkaderan atau apalah namanya tidak mudah seperti apa yang kita pikirkan, hanya dengan dakwah fardiyah semata. Tapi hal yang paling mendasar adalah di mulai dari diri kita, kemudian keluarga kita, barulah menyebar ke hal-hal lain (baca : orang lain).

Bukankah tujuan kita berumah tangga, tujuan kita menikah dan tujuan kita bepasang-pasangan adalah untuk menambah long list generasi-generasi unggulan di masa depan.


Sumber : ummi-online.com

Mengapa Cinta dalam Pernikahan Bisa Memudar ??


Hasil gambar untuk lelaki dewasa dan lelaki kekanak-kanakan

Sahabat Ummi, jika ada yang beranggapan cinta dalam pernikahan bersifat abadi untuk selama-lamanya, mungkin terlalu banyak menonton drama Korea, India, atau kartun Princess.

Nyatanya, cinta dalam pernikahan pun bisa memudar sebagaimana pakaian yang terlalu sering dicuci. Sehingga cinta antara pasutri itu sendiri perlu dirawat agar tetap bersinar seperti pakaian baru.

Mengapa cinta dalam pernikahan bisa memudar? Berikut ini beberapa alasannya:

1. Tidak adanya upaya pasutri untuk merawat cinta

Kapan terakhir kali menyatakan cinta pada pasangan?

Suami sibuk bekerja, istri sibuk dengan urusannya sendiri, tiap hari bertemu tapi interaksi hanya sekadarnya. Maka cinta pun tidak lagi terawat.

Solusi agar cinta tidak memudar adalah memperbanyak interaksi dengan pasangan, memperbaiki pola komunikasi, sering memuji pasangan, mempersering jalan berdua dan menghabiskan waktu bersama.

2. Lebih tertarik dengan yang lain

Ada kalanya memudarnya cinta lebih disebabkan ketidakmampuan menjaga pandangan serta hati. Sehingga apa yang dilihat di luar rumah dianggap lebih menarik daripada pasangan hidup sendiri.

Solusinya adalah dengan menahan pandangan sebagaimana yang Allah perintahkan dalam al Quran surah An Nuur ayat 30-31.

3. Ekspektasi sebelum menikah terlalu tinggi

Ada pula yang kehilangan cinta pada pasangan dikarenakan ekspektasi atau harapan dirinya terhadap sebuah pernikahan terlampau tinggi, ketika ekspektasi ini tidak terpenuhi oleh pasangan hidupnya, maka cinta pun memudar.

Solusinya bagi yang belum menikah bisa menurunkan ekspektasi terhadap calon pasangan hidup. Akan tetapi buat yang sudah menikah, solusinya adalah dengan lebih menerima pasangan hidup apa adanya dan tidak lagi memperpanjang angan-angan mengenai pernikahan ideal yang didambakan, apalagi sampai menyudutkan pasangan karena jauh berbeda dengan yang Anda harapkan.

Demikian beberapa penyebab memudarnya cinta dan solusi untuk mengantisipasinya agar tidak menimpa pernikahan Sahabat Ummi. Semoga bermanfaat.


Sumber : ummi-online.com

Ini Sebabnya Pernikahan Bisa Membuat Laki-laki Lebih Dewasa Sedangkan Pacaran Membuat Laki-laki Lebih Kekanakan


Hasil gambar untuk lelaki dewasa dan lelaki kekanak-kanakan

Sahabat Ummi, setujukah bahwa pada umumnya pernikahan bisa membuat laki-laki lebih dewasa, sedangkan pacaran justru sebaliknya, membuat seorang laki-laki lebih kekanakan? Ada beberapa alasan yang menyebabkan hal ini terjadi, berikut beberapa di antaranya:

1. Pernikahan menandakan seorang laki-laki yang bersedia membuat komitmen, sedangkan pacaran adalah untuk laki-laki yang takut berkomitmen

Seorang laki-laki sejati tidak akan takut pada komitmen dalam rumah tangga, karena ia tahu cinta itu membutuhkan tanggungjawab, tidak hanya mereguk kenikmatan lalu melarikan diri dari kewajiban dan kesulitan yang dihadapi.

Laki-laki yang takut berkomitmen bukankah sama seperti anak kecil yang hanya suka bermain tanpa mau membereskan kembali mainan ke tempatnya semula? Dan segera meninggalkan mainan tersebut begitu rusak.

2. Kewajiban menafkahi istri dan anak 'memaksa' laki-laki untuk meninggalkan zona nyaman, tidak adanya kewajiban menafkahi saat berpacaran hanya membuat laki-laki ketagihan luntang-lantung mem-PHP para gadis

Kalau sekadar traktir nonton, traktir makan, sekali-sekali membelikan baju, sebagaimana orang pacaran, sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan uang yang perlu dikeluarkan untuk memberi makan seorang perempuan minimal 3 kali sehari, belum termasuk biaya beli cemilan, dan kebutuhan bulanan seperti shampo, sabun, detergen, pembalut, dan lain sebagainya. Juga biaya cicilan rumah, kendaraan, agar keluarganya mendapat fasilitas yang lebih nyaman.

Apalagi kalau sudah punya anak, harus beli popok, pampers, susu, bubur, dan kebutuhan lainnya. Kewajiban menafkahi inilah yang idealnya bisa memaksa laki-laki meninggalkan zona nyamannya dan menjadi sosok yang lebih bertanggungjawab.

Itulah sebabnya wanita yang rela 'dibeli' waktu dan perhatiannya hanya dengan tiket nonton bioskop, makan bareng, jalan bareng, sungguh merugi... sudahlah tidak dapat pahala, beresiko terjerumus zina, menghabiskan waktu, perhatian, dan cinta pada orang yang belum tentu rela menanggung nafkahnya di kemudian hari.

3. Perbedaan karakter, cara pandang, dan gaya hidup dengan seorang wanita yang sudah menjadi seorang istri akan membuat laki-laki mengurangi kadar keegoisannya, sedangkan kepura-puraan perempuan saat pacaran karena menutupi segala kecacatannya akan membuat laki-laki semakin dimanjakan

Saat seorang perempuan berpacaran kebanyakan menutup-nutupi hal buruk dari dirinya, mengutamakan wajah cantik, berpura-pura sabar, berusaha beradaptasi dengan si yayang dan lainnya yang membuat seorang laki-laki tidak benar-benar paham perbedaan cara pandang, cara berkomunikasi, dan gaya hidup bersama seorang perempuan.

4. Hubungan rumit dengan mertua, ipar, dan keluarga besar istri menjadikan seorang laki-laki memiliki kemampuan beradaptasi dan berlapang dada

Saat pacaran, seorang laki-laki tidak dituntut untuk mengenali dan beradaptasi dengan keluarga pacarnya, beda dengan ketika menikah, di mana ia perlu beradaptasi dengan keinginan dan kebutuhan keluarga besar istri.

Memang pada kenyataannya tidak semua suami bisa menjadi dewasa, ada juga yang selamanya menjadi kanak-kanak dan egois sekalipun sudah menikah bertahun-tahun, namun beberapa hal yang disebutkan di atas merupakan faktor-faktor yang bisa mem-boosting kedewasaan pada diri seorang laki-laki, dan hal tersebut pasti ditemukan dalam ikatan pernikahan.


Sumber : ummi-online.com