Wednesday, November 9, 2016

9 Tips Praktis Agar Tidak Menjadi Ibu Pemarah


Hasil gambar untuk muslimah cantik

Sahabat Ummi, yang paling penting diingat oleh setiap ibu adalah bahwa anak-anaknya bukanlah miliknya, benar bahwa ibu telah melahirkan dengan susah payah, menyusui hingga dua tahun, tapi tidak lantas hal tersebut menjadikan seorang ibu berhak melakukan apapun pada anak-anaknya! Apalagi memarahi mereka dengan hujan makian dan pukulan.

Anak-anak kita merupakan titipan Allah yang suatu saat akan kita kembalikan, dan Allah akan meminta pertanggungjawaban kita atas titipanNya. Kita selaku orangtua tak ada bedanya sebagaimana seorang tukang parkir yang akan ditanyakan apabila mobil yang diparkir terdapat noda, rusak, atau cacat lainnya. Demikian pula segala perbuatan dan kata-kata yang kita ucapkan pada anak-anak akan diminta pertanggungjawaban oleh pemiliknya kelak.

Maka, berikut ini ada 10 tips praktis agar tidak mudah marah pada anak-anak:

1. Setiap kali merasa kesal dan ingin marah, beri jeda untuk diam sejenak

Ambil jeda untuk diam sejenak, berlalu setidaknya 2 menit dari hadapan anak-anak.

"Anda bisa mengambil waktu istirahat dan keluarlah dari ruangan itu. Bahkan walau hanya 1-2 menit saja," papar psikolog, Laura J. Petracek, PhD, penulis The Anger Workbook for Women. Kuncinya adalah memberi jarak literal dari situasi penuh kemarahan dan memulihkan rasa tenang.

2. Ambil wudhu setiap kali marah

Percayalah bahwa air wudhu bisa mengusir kemarahan. �Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan terbuat dari api. Dan api itu hanya bisa dipadamkan oleh air. Oleh karena itu, jika seorang di antara kamu marah maka berwudhulah. � (HR. Abu Daud)

3. Ubah posisi tubuh

Cari tempat untuk duduk atau berbaring ketika merasa emosi sedang meninggi.

�Maka apabila salah seorang di antara kamu marah dalam keadaan berdiri maka duduklah. Apabila dalam keadaan duduk maka berbaringlah. � (Riwayat Abu Daud).

4. Peluk anak sambil beristighfar

Ketika sedang kesal pada anak, coba peluklah anak dan bayangkan ia saat masih bayi dulu. Lantunkan istighfar minimal dalam hati untuk mengusir rasa kesal yang bercokol di hati. Nasihati anak dengan baik-baik, katakan bahwa apa yang baru saja ia lakukan bisa membuat ibu marah, jadi ia tidak boleh melakukannya lagi karena berbahaya atau jelaskan sebabnya yang bisa dimengerti anak.

5. Luangkan waktu untuk beristirahat dan pergi ke suatu tempat tanpa anak atau suami

"Me time" sangat penting sekalipun hanya 1-2 jam saja dalam seminggu. Sangat mungkin temperamen memburuk karena terlalu letih dan bosan mengurus pekerjaan rumah.

6. Berhenti mengharapkan anak menjadi sempurna

Setiap anak punya kekurangan, jika anak susah sekali menghapal huruf, alih-alih memarahinya, lebih baik Anda cari metode lain yang lebih menyenangkan dan mudah dimengerti olehnya.

7. Belajar ilmu parenting terupdate

Semakin banyak ilmu tentang parenting, kita akan semakin paham bahwa memarahi anak adalah hal yang buruk, terutama di hadapan orang lain.

�Sesungguhnya ilmu itu dengan belajar, sesungguhnya sifat hilm (lemah lembut) dengan belajar berlemah lembut, barangsiapa yang mencari kebaikan, maka akan diberikan. Dan barangsiapa menjaga kejelekan, maka dia akan dilindungi.� � (HR. Thabrani di �Al-Ausath, 2663 dan dihasankan oleh Al-Albany)

8. Pastikan kondisi tubuh ibu sedang fit

Rasa lapar bisa memantik emosi, demikian juga rasa haus dan kurang istirahat. Bagi yang berharap menjadi ibu yang tidak mudah marah, maka pastikan kondisi tubuh senantiasa bugar. Makan tepat waktu, minum air cukup, tidur cukup, dan selalu jaga stamina dengan konsumsi madu juga habbatussauda.

9. Perhatikan kondisi kesehatan anak

Seringkali anak rewel dan bertingkahlaku menyebalkan bukan karena ingin memancing kemarahan bundanya, tapi karena sedang tidak enak badan. Maka pastikanlah kondisi kesehatan anak ketika ia tampak lebih rewel dari biasanya, apakah perutnya sedang kembung masuk angin, atau mulutnya terkena sariawan, atau jangan-jangan tenggorokannya sedang mengalami radang amandel. Jangan buru-buru marah tanpa tahu kondisi anak yang seutuhnya!


Sumber : ummi-online.com

Walau Ngambek, Istri Jangan Mengatakan Hal Ini pada Suami


Walau Ngambek, Istri Jangan Mengatakan Hal Ini pada Suami

Sahabat Ummi, yang namanya wanita biasanya sangat sensitif dan mudah ngambek begitu terjadi sesuatu yang tidak disenangi.

Akan tetapi wahai muslimah, wahai para istri shalihah, se-ngambek apapun dirimu, jangan sampai mengucapkan hal-hal ini pada suami, karena bisa menjadikan diri kita termasuk istri yang kufur terhadap suami:

1. "Kamu tak pernah berbuat baik padaku sama sekali"

Benarkah pernyataan ini? Padahal mungkin suami kita sudah pontang-panting bekerja mencari nafkah untuk istri dan anak, hanya karena satu kesalahan yang tidak kita sukai, pantaskah jika kita menyebutkan kalimat tersebut?

2. "Apa sih bagusnya kamu? Nggak ada!"

Seburuk-buruknya manusia pasti punya kebaikan, pasti ada hal yang bagus dari dirinya, maka jangan sampai kita mengucapkan hal seperti ini.

3. "Aku tak pernah bahagia bersamamu"

Faktanya, bahagia atau tidaknya diri kita bukanlah tergantung orang lain, melainkan tergantung keputusan kita sendiri. Maka tak patut kita mengucapkan hal ini pada suami, karena bisa menyakiti perasaan suami.

Tahukah bahwa Rasulullah menyatakan banyak wanita masuk neraka karena perkataan-perkataan sejenis itu?

� � dan aku melihat Neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita.

Para sahabat pun bertanya : �Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?�

Baginda s.a.w menjawab : �Karena kekufuran mereka.�

Kemudian ditanya lagi : �Apakah mereka kufur kepada Allah?�

Baginda menjawab : �Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : �Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.�� (Hadis Riwayat Imam Al-Bukhari)

Oleh sebab itu, semoga tulisan singkat ini menjadi pengingat para istri agar tidak sembarangan dalam mengucap sesuatu pada suaminya sekalipun ngambek. Wallaahualam.


Sumber : ummi-online.com

Begini Sebaiknya Istri Bersikap pada Pasang Surut Rezeki Suami


Begini Sebaiknya Istri Bersikap pada Pasang Surut Rezeki Suami

�Giliran dapat transferan, senyum ke suami selegit gulali, kopi manis pun tersaji, Abang Sayang jadi julukan�

�Saat tak ada amplopan, muka cemberut tersenyum kecut, kopi pahit terasa di mulut, Abang tiba tak dihiraukan�

Sahabat Ummi, ada diantara istri yang berlaku demikian terhadap suaminya. Istri yang di saat suaminya memberi rezeki seperti yang ia harapkan, ia akan melayaninya dengan sepenuh hati dan menjalankan kewajibannya dengan paripurna. Tetapi di kala suami pulang dengan rezeki jauh dari bayangan, ia pun enggan memberikan hak suaminya bahkan berani mencelanya.

Lalu, bagaimana sebaiknya istri bersikap terhadap pasang surut rezeki suami?

1. Bersikap Qana�ah

Sikap qana�ah/merasa cukup menjadi benteng terdepan bagi istri, sehingga ia ikhlas menerima berapapun pemberian suaminya, banyak atau sedikit, lebih maupun kurang,  tetap bersyukur atas rezeki dari Allah tersebut.

Dari Abdullah bin �Amr bin al-�Ash, Rasulullah bersabda : �Sungguh sangat beruntung orang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana�ah (merasa cukup dan puas) dengan pemberian-Nya� (HR Ibnu Majah)

Dari Ibnu �Umar, Rasulullah bersabda : �Wahai kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar karena aku melihat penghuni neraka terbanyak adalah (kaum) kalian.� Kemudian diantara mereka ada  seorang wanita bertanya, �Kenapa (kaum) kami menghuni sebagian besar neraka?� Beliau menjawab, �Karena kalian sering melaknat dan mengingkari (kebaikan) suami�.� (HR Muslim)

2.Berprasangka baik pada suami

Mengedepankan sikap husnudzon/baik sangka. Jangan dulu berpikir buruk saat pemberian suami kurang dari biasanya. Siapa tahu dagangan hari itu sedang kurang laku, barangkali ia memakai uangnya untuk membeli sesuatu yang sangat perlu atau mungkin  ia memberikan ke saudara yang perlu dibantu. Berbaiksangkalah, tidak perlu curiga dan tanyakan dengan hati-hati kalau memang ingin tahu alasannya.

�Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang� (QS Al-Hujurat 12)

3.Sabar dan syukur

Hidup ini antara sabar dan syukur, separuhnya iman itu sabar, lalu separuhnya lagi adalah syukur (Imam Ghazali). Sabar dan syukur menjadi kunci utama bagi istri sehingga tak akan membedakan perlakuan terhadap suami, baik kurang atau lebih rezeki yang diberi.

�Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: �Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.� (QS Ibrohim  7)

�Sungguh menakjubkan orang beriman, semua urusannya baik bagi dirinya. Dan itu tidak akan terjadi kecuali pada orang beriman. Apabila diberi sesuatu yang menyenangkan, ia akan bersyukur, dan apabila diberi musibah/sesuatu yang tidak menyenangkan, ia akan bersabar. Dan kedua-keduanya baik baginya� (HR Muslim)

4.Hargai perjuangan suami

Daripada meributkan rezeki hasil jerih payah suami, lebih baik apresiasi perjuangannya untuk mendapatkan rezeki itu. Bayangkan saat suami harus sabar berhadapan dengan atasan yang terlalu menekan, wajib hati-hati bekerja karena resiko pekerjaan yang rentan kecelakaan, mesti menembus kemacetan untuk pergi dan pulang, juga  harus bersahabat dengan cuaca saat bekerja di lapangan. Jadilah istri yang tersenyum indah saat menyambut suami, ridha menerima pemberiannya, mendamaikan segala keluh kesahnya, mendoakan kelapangan rezekinya pun selalu bersyukur pada Allah atas segala nikmat-Nya.



Sumber : ummi-online.com
Oleh : Dian Restu Agustina,

Tak Hanya Pukulan, 4 Hal Ini Juga Tergolong KDRT


Hasil gambar untuk kdrt

Sahabat Ummi, jika disebutkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) mungkin yang terbayang di benak kita adalah seorang suami yang memukuli atau menampar istrinya, akan tetapi sebenarnya KDRT tidak hanya soal pukul-memukul, ada hal-hal lain yang termasuk KDRT dan perlu untuk kita kenali.

Kekerasan dalam rumah tangga dalam Undang-undang No.23 Tahun 2004 diartikan sebagai setiap perbuatan terhadap seseorang, terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

�Engkau beri makan istrimu apabila engkau makan, dan engkau beri pakaian bila engkau berpakaian. Janganlah engkau memukul wajahnya, jangan menjelekkannya, dan jangan memboikotnya (mendiamkannya) kecuali di dalam rumah�. (HR. Abu Dawud)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah telah melarang para suami untuk berbuat KDRT, beberapa tindakan yang dilarang antara lain sebagai berikut:

1. Larangan 'bersenang-senang' sendirian

Para suami dilarang egois, ketika suami makan... ingatlah istri, sudahkah engkau memberi istrimu makan? Ketika berpakaian bagus, perhatikanlah juga pakaian yang dikenakan istri dan anak-anakmu! Termasuk perbuatan dosa dan KDRT jika seorang suami tidak memberi makan orang-orang yang menjadi tanggungannya, bahkan membiarkan istri yang bekerja menafkahi rumah tangga.

Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam bersabda: "Cukuplah dosa bagi seseorang dengan ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya." (HR. Abu Daud)

Di dalam sabda Rasulullah yang lain disebutkan : "Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa orang-orang yang menahan makan (upah dan sebagainya) orang yang menjadi tanggungannya." (HR. Muslim)

2. Larangan memukul wajah

Ketahuilah bahwa memukul wajah amat dilarang dalam Islam. Dari Jabir, ia berkata, �Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam melarang memukul di wajah dan memberi alamat (dengan menggores) di wajah� (HR. Muslim III/1673 no 2116)

Jelas bahwa suami yang menampar, memukul, melukai hingga menyakiti fisik sang istri adalah perbuatan KDRT yang tak dibenarkan secara agama, hukum, dan norma adat. Kalaupun istri melakukan kesalahan, ada aturan dalam memukul istri yang harus diperhatikan, terutama tak boleh melukai bagian wajah.

3. Larangan menjelekkannya

Ketika seorang suami menjelek-jelekkan istrinya, dengan cara menghina, memaki, bertengkar hebat, sehingga merusak psikologis sang istri, menjadi rendah diri, ketakutan, sedih, hal tersebut sudah bisa dikategorikan KDRT.

�Tidak boleh seorang mukmin menjelekkan seorang mukminah. Jika ia membenci satu akhlak darinya maka ia ridha darinya (dari sisi) yg lain.� (Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thahawi dalam al-Musykilul Atsar (VI/343, no. 2523), Ibnu Majah (no. 1977), dari Ibnu �Abbas radhiyallaahu �anhuma)

4. Jangan mendiamkannya kecuali di rumah, itu pun karena istri melakukan kesalahan

Suami tidak boleh memboikot istri tanpa alasan syar'i. Jika istri membangkang, maka suami boleh melakukan pemboikotan di rumah. Mengenai cara memboikot istri, para ulama memberikan beberapa cara sebagaimana diterangkan oleh Ibnul Jauzi:

Tidak berhubungan intim terutama pada saat istri butuh

Tidak mengajak berbicara, namun masih tetap berhubungan intim

Pisah ranjang (Lihat Zaadul Masiir, 2: 76).

�Tidak halal bagi seorang muslim melakukan hajr (boikot dengan tidak mengajak bicara) lebih dari tiga hari.� (HR. Bukhari no. 6076 dan Muslim no. 2558).

Jika suami memboikot istri padahal istri tidak melakukan pembangkangan, maka apa yang dilakukan suami tersebut termasuk KDRT, terutama jika menyakiti istri secara psikologis dan emosional. Wallaahualam.



Sumber : ummi-online.com

Inilah Alasan Banyak Pria yang Berharap Punya Istri Berhijab


Inilah Alasan Banyak Pria yang Berharap Punya Istri Berhijab

Sahabat Ummi, sekalipun wanita berpakaian seksi dan berani mengumbar aurat terlihat begitu menggoda, tapi kenapa banyak pria yang berharap memiliki istri berhijab?

Sebenarnya perumpamaannya mirip seperti saat kita bertransaksi di toko, sekalipun yang banyak dilihat dan dipegang adalah barang-barang yang dipajang dan digantung di luar, tapi yang dibeli dan dibawa pulang biasanya yang masih terbungkus rapi di plastik.

Berikut ini beberapa alasan banyak pria mendamba memiliki istri berhijab, semoga para muslimah berhijab makin memperbaiki akhlak agar selaras antara kecantikan lahiriah dan kecantikan batiniahnya:

1. Wanita berhijab dianggap mampu menjaga diri dari pandangan nakal lelaki

Menutup aurat dengan rapi dan sesuai syariat tidak hanya adem dilihat, tapi juga dianggap telah mampu menjaga diri sendiri dari kenakalan pandangan lelaki pada umumnya.

�Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.� (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami�ush Shahih 3/57: Hadits ini shahih di atas syarat Muslim)

2. Wanita berhijab terkesan lebih simple

Sederhana merupakan imej asli dari para wanita berhijab, maka tidak perlu model hijab ribet atau make up polesan yang tebal hanya untuk mempercantik diri, kesederhanaan merupakan kunci kecantikan wanita berhijab.

3. Wanita berhijab memberi kesan qonaah

Siapa yang menginginkan istri rewel dan banyak menuntut? Imej wanita berhijab adalah mampu menerima diri suami apa adanya dan tidak banyak protes. Oleh sebab itu, banyak pria yang berharap bisa memperistri wanita berhijab ketimbang wanita yang gemar mengumbar auratnya.

4. Wanita berhijab tampak keibuan

Biasanya wanita berhijbab lebih terlihat feminin dan keibuan, banyak pria berharap bisa memperistrinya karena meyakini bakat mengurus anak dan kemampuan untuk bermain bersama anak kecil yang dimiliki oleh wanita berhijab.



Sumber : ummi-online.com

Awas, Orang Munafik Lebih Berbahaya dari Orang Kafir


Hasil gambar untuk topeng

�Yang menghancurkan Islam adalah orang alim yang menyimpang, orang munafik yang pandai mendebat A-Qur�an dan menggunakan Al-Qur�an untuk kepentingan pribadi, serta para pemimpin sesat.� (Umar bin Khattab Radiyallaahu 'anhu)

Sahabat Ummi, jangan remehkan orang munafik, sungguh kekacauan dalam umat Islam banyak disebabkan oleh orang-orang yang munafik, yakni musuh di dalam selimut, mengaku Islam... mengaku beriman, padahal tidak. Kata-kata mereka terdengar hebat, terdengar logis, hingga semua orang mendengarkan pernyataannya, akan tetapi ketahuilah bahwa Allah telah menyatakan mereka inilah (orang-orang munafik) musuh yang sebenarnya:

�Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukkan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan dari kebenaran?� (QS. Al-Munafiqun : 4)

Bagaimana ciri-ciri orang munafik? Tentunya kita tahu bahwa ciri kemunafikan ada 3,"Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati.� (HR Al-Bukhari)

Tetapi bukan hanya itu, orang munafik juga biasanya memiliki dua muka, mereka tidak segan melakukan sesuatu untuk mengolok-olok kaum mukmin dan mendukung orang-orang kafir.

�Apabila mereka menjumpai orang-orang mukmin, mereka berkata, �Kami telah beriman.� Namun jika mereka menyendiri beserta dedengkot-dedengkotnya, mereka berkata, �Sesungguhnya kami di pihak kalian. Hanya saja kami hendak mengolok-olok kaum mukmin.� Allah akan mengolok-olok mereka dan menelantarkan mereka dalam kedurhakaan, sedangkan mereka dalam keadaan bimbang� (QS: 2: 14-15).

Itu sebabnya orang munafik cukup sulit dideteksi di kalangan orang beriman, karena mereka 'menyamar' sebagai orang beriman, bahkan mereka pun mengerjakan shalat dan merasa diri mereka seorang muslim. Padahal mereka banyak berbuat kerusakan di muka bumi dan membuat perpecahan di kalangan umat muslim itu sendiri.

�Dan apabila ia mengerjakan puasa dan shalat, ia menyangka bahwa dirinya seorang muslim� (HR Muslim, Kitab Iman, Bab Penjelasan Sifat-Sifat Orang Munafik, no. 59).

Maka, bagian kerak neraka, bagian neraka yang paling dasar, akan menjadi tempat tinggal oleh orang-orang munafik, bukan orang kafir. Sesungguhnya orang-orang munafik itu akan dicampakkan ke dalam kerak neraka dan kamu tidak akan melihat mereka memperoleh penolong� (QS. AnNisaa : 145)

Sahabat Ummi, takutlah akan sifat munafik, karena bisa jadi hati kita disusupi karakter munafik ini. Ibnu Abi Malikah pernah mengatakan, �Aku telah menjumpai tiga puluh sahabat Nabi, seluruhnya takut akan nifak. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengatakan, bahwa dirinya memiliki iman seperti imannya Jibril dan Mikail.

Setiap orang beriman akan khawatir pada sifat munafik, kecuali orang munafik itu sendiri. Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, �Tidak ada orang merasa aman dari sifat nifak kecuali orang munafik dan tidak ada orang yang merasa khawatir terhadapnya kecuali orang mukmin.� Wallaahualam.



Sumber : ummi-online.com

Inilah Perbedaan Pria dan Wanita yang Perlu Dipahami dalam Pernikahan


Inilah Perbedaan Pria dan Wanita yang Perlu Dipahami dalam Pernikahan

Sahabat Ummi, banyak pasutri ribut tak jelas hanya karena persoalan sepele, terkadang akar permasalahan sebenarnya adalah kurangnya ilmu atau pengetahuan mengenai perbedaan karakter dan cara berkomunikasi antara pria dan wanita. Jadi karena saling tidak mengerti pola pria dan wanita itu berbeda, makanya ribut.

"Kamu harusnya ngerti dong perasaan aku!"

"Loh, aku kan sudah memberitahu solusinya sama kamu!"

Waduuh, sabar yaa! Yuk kita pelajari apa saja sih perbedaan pria dan wanita yang perlu dipahami agar tak kebingungan dalam pernikahan:

1. Perbedaan respon saat menghadapi masalah atau tekanan

Dalam buku Men are from Mars, Women are from Venus yang ditulis oleh John Gray, PHD diterangkan salah satu perbedaan pria dan wanita adalah cara mereka dalam menghadapi masalah.

Biasanya ketika menghadapi masalah atau tekanan, seorang pria cenderung menarik diri seolah-olah masuk ke dalam 'goa'nya sendiri dan tidak ingin diganggu, agar ia bisa fokus mencari solusi dari masalah yang menghimpitnya.

Berbeda dengan wanita yang justru merasa lebih baik dengan membicarakan persoalan-persoalan tersebut, bahkan ekstremnya... sekalipun ia tidak menemukan solusi setelah membicarakan masalahnya dnegan orang lain, tapi setidaknya hati seorang wanita merasa lebih lega setelah mengutarakan masalah yang menghimpitnya.

Lihatlah betapa fatalnya jika pasutri tidak paham perbedaan ini. Ketika seorang istri ada masalah dan membicarakan masalah-masalahnya pada sang suami, semestinya suami diam saja dan mendengarkan baik-baik sampai istrinya puas bercerita (mungkin minimal butuh 1 jam). Tapi apa yang dilakukan kaum pria ketika mendengar istrinya curcol? Biasanya akan berkomentar dan memberikan saran atau solusi, sehingga istri akan merasa suaminya tidak perhatian padanya.

Sebaliknya, ketika seorang suami menghadapi kesulitan dan butuh menyendiri, istri biasanya memaksa suaminya untuk bercerita padanya, tapi karena suami tak mau cerita... istri pun menyimpulkan bahwa suaminya ini tak percaya pada dirinya. Hadeuh... mengertilah wahai istri, suami Anda perlu waktu untuk menyendiri ketika menghadapi permasalahan, karena cara pria dan wanita dalam merespon permasalahan memang tidak sama.

2. Pria takkan mengerti kalau tidak diberitahu dengan lugas, sedangkan wanita berharap dimengerti sekalipun tidak memberitahu

"Kamu kenapa, kok cemberut?"

"Nggak kenapa-napa"

"Oh, ya sudah kalau nggak kenapa-napa..."

Sering merasakan suasana krik-krik seperti itu? Hal tersebut karena pria kurang mampu 'mengulik-ngulik' alias mencari tahu apa yang dipikirkan sang istri, sedangkan kesalahan sang istri adalah senantiasa menganggap suaminya sebagai dukun atau cenayang yang harus tahu segala pikiran dan perasaannya sekalipun tidak dikatakan.

Dalam hal ini istrilah yang harus rasional dan jangan emosional, katakan dengan gamblang apa yang kamu inginkan pada suamimu, dan jangan hanya sekadar berdoa saja, "Yaa Allah... semoga suami saya tahu apa yang saya harapkan darinya." Bukan begitu caranya, ikhtiar terlebih dulu baru kemudian pungkas ikhtiar kita dengan doa.

Jika istri mau mulai berbicara dengan jelas, maka suami akan memahami apa yang sebenarnya diinginkan.

"Mas, mau sate nggak?"

"Nggak." (Padahal istri berharap suaminya mengerti bahwa si istrilah yang pengen sate, kemudian istri pun cemberut)

Daripada seperti ini, lebih baik katakan langsung.

"Mas aku lagi pengen sate nih, bisa tolong belikan nggak?"

"Oooh kamu mau sate, sini Mas beliin."

3. Wanita bisa melakukan beberapa hal dalam satu waktu, sementara pria biasanya terfokus melakukan satu hal dalam satu waktu

Penelitian dari Universitas Galsgow, Universitas Leeds dan Universitas Hertfordshire membuktikan kemampuan multitaskingpada wanita. Otak wanita memiliki Corpus Collosum, yaitu sekelompok saraf yang menghubungkan belahan otak kanan dan kiri yang cukup besar. Ini menyebabkan seorang istri bisa nonton film, ngobrol, sekaligus menyetrika di waktu yang sama. Hal yang umumnya tidak bisa dilakukan oleh seorang pria yang terbiasa fokus mengerjakan satu per satu.

Bayangkan kalau pasutri tak mengerti perbedaan ini, maka istri akan marah-marah ketika suami yang sedang membaca koran tidak menyimak curhatan sang istri. Padahal istri merasa ia bisa melakukan berbagai hal dalam satu waktu, kok suaminya nggak bisa begitu sih? Berarti suami tidak sayang sama istri dong?

Nah, jika sudah mengetahui perbedaan ini, tidak perlu lagi bertengkar apalagi menuduh macam-macam ya?!

4. Wanita lebih mudah stres, Pria lebih mudah terprovokasi

Laki-laki cenderung mudah terprovokasi. Fisiknya bertindak reaktif dengan marah, mengepalkan tangan, meninju tembok dan sebagainya. Namun ia relatif cepat melupakan masalah itu setelah berlalu.

Sedangkan wanita sebaliknya, ia sering kali mengatakan �tidak ada apa-apa�, padahal ia menyimpan emosi di dalam hati atau tertekan (stress) bahkan setelah masalahnya berlalu. Nah, suami perlu sensitif terhadap hal ini, perhatikan bahasa tubuh istrimu, jika terjadi perubahan air muka yang tampak murung, gerak yang lebih lambat, dan sejenisnya. Selalu siaplah memeluk istri ketika ia terlihat stres menghadapi masalah, dan selalulah siap menyediakan pundak jika istri menangis.

5. Pria lebih suka dapat 'imbalan' langsung saat itu juga, sedangkan wanita lebih suka sesuatu yang konsisten meskipun sederhana

Seorang suami menyukai pujian dan apresiasi ketika ia berhasil melakukan sesuatu, sedangkan wanita lebih suka hal-hal kecil tapi berlangsung terus-menerus, misalnya ungkapan "Aku cinta kamu!" atau pelukan dan kecupan manis setiap akan berangkat kerja.

Oleh sebab itu, buat para istri biasakanlah berterimakasih pada suami, sekalipun uang belanja bulanan tidak nambah, tapi setiap kali suami memberikan pada Anda uang bulanan maka bersyukurlah. Sebaliknya, untuk para suami... tidak semua istri matre dan menyukai harta, ada yang menyukai kebersamaan dan keromantisan alias perhatian dari suami, maka jangan lupa untuk memberikan keromantisan yang diharapkan istri tersebut. Sepele saja, hanya dengan membiarkan istri menggelendot manja, atau memijiti istri yang lelah seharian mengurus anak.


Sumber : ummi-online.com